Monday, January 25, 2010

Materi Home Schooling


Tentang Home Schooling
Fenomena homeschooling beberapa tahun belakang ini kian mengeliat menjadi dan tren di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan orang-orang kota. Dan tidak sedikit dari orang tua yang lebih memilih untuk mendidik anaknya di homeschooling di banding sekolah reguler. Lalu sebenarnya apa yang di maksud dengan homeschooling itu? Apa kelebihan dan kekurangan bagi peserta didiknya? Berikut ini adalah sedikit paparan singkat megenai hal tersebut.

Pengertian Homeschooling

Homeschooling kadang disebut pula dengan istilah home education atau home-based learning. Secara resmi Depdiknas menggunakan istilah “sekolah rumah” atau “sekolah mandiri”. Homeschooling merupakan model pendidikan alternatif selain sekolah yang diselenggarakan oleh keluarga, yang memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing. Homeschooling ini sendiri pertama berkembang di Amrika Serikat dan beberapa negara di Eropa. Baru kemudian menjadi tren di Indonesia tahun-tahun belakangan ini. Namun sebenarnya kalau kita melihat sejarah pada masa Nabi Muhammad saw, metode homeschooling ini telah ada. Bagaimana Nabi saw dan para sahabat-sahabatnya mendidik keluarga mereka sendiri. Setelah para sahabat mendapatkan ilmu dari dari Nabi saw, kemudian mereka menyampaikannya kepada istri dan anak-anak mereka. Oleh karena itu tidak heran kalau beliau pernah bersabda yang intinya, bahwa tidaklah seorang anak itu lahir ke dunia kecuali dalam keadaan fitrah (beragama Islam), tapi bagaimana kemudian ia menjadi orang Nasrani, Yahhudi, ataupun yang lainnya adalah karena kedua orang tuannya. Di sini jelas orang tua memegang perang yang amat vital dalam mengajar dan mendidik anak-anaknya.

Sebagai informasi, Ki Hajar Dewantara, Buya Hamka dan KH Agus Salim, Albert Einstein, Alexander Graham Bell, Agatha Christie, Thomas A. Edison, George Bernard Shaw, Woodrow Wilson, Mark Twain, Charlie Chaplin, Charles Dickens, Winston Churchill,bahkan Christopher Paolini adalah tokoh-tokoh besar yang lahir dari homes chooling.

Metode Homeschooling

Metode homeschooling ada tiga jenis. Pertama, homeschooling tunggal, kemudian homeschooling majemuk yang terdiri dari dua keluarga, dan yang terakhir homeschooling komunitas.
1. Homeschooling tunggal adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh orang tua dalam suatu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya. Dalam hal ini orang tua terjun langsung sebagai guru menangani proses belajar anaknya, jika pun ada guru yang didatangkan secara privat hanya akan membimbing dan mengarahkan minat anak dalam mata pelajaran yang disukainya. Guru tersebut bisa berasal dari lembaga-lembaga yang khusus menyelengarakan program homeschooling, contonya adalah lembaga Asah Pena asuhan Kak Seto. Lembaga ini mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial yang terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan.
2. Homeschooling majemuk adalah homeschooling yang dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orang tua masing-masing.
3. Sementara homeschooling komunitas adalah gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelelajaran. Dalam hal ini beberapa keluarga memberikan kepercayaan kepada Badan Tutorial untuk memberi materi pelajaran. Badan tutorial melakukan kunjungannya ke tempat yang disediakan komunitas.

Legalitas Homeschooling

Dasar penyelenggaraan homeschooling di antaranya adalah UU No. 20 Th. 2003 tentang Sisdiknas, terutama pasal 27 yang berbunyi: (1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. (2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Penyetaraan Homeschooling

Kegiatan homeschooling perlu dilaporkan ke Dinas Pendidikan setempat agar peserta homeschooling mendapat ijazah resmi dari pemerintah. Untuk ijazah SD adalah Paket A, SMP Paket B, dan SMA Paket C. Sistem ujiannya adalah melalui ujian nasional kesetaraan.

Jika di sekolah formal ada BOS, di homeschooling ada BOP (Bantuan Operasional Pendidikan), yakni: untuk Paket A bantuan warga belajar sebesar Rp. 238rb+Rp. 74rb (modul/bahan ajar); Paket B Rp. 260rb+Rp.80rb; dan Paket C Rp. 285rb+84rb.

Keunggulan Homeschooling

Metode pembelajaran tematik dan konseptual serta aplikatif menjadi beberapa poin keunggulan homeschooling. Homeschooling memberi banyak keleluasaan bagi anak didik untuk menikmati proses belajar tanpa harus merasa tertekan dengan beban-beban yang terkondisi oleh target kurikulum. Setiap siswa homeschooling diberi kesempatan untuk terjun langsung mempelajari materi yang disediakan, jadi tidak melulu membahas teori. Mereka juga diajak mengevaluasi secara langsung tentang materi yang sedang di bahas. Bahkan bagi siswa yang memiliki ketertarikan di bidang tertentu, misalnya Fisika atau Ilmu alam, diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan observasi dan penelitian sesuai ketertarikan mereka.Beberapa keunggulan lain homeschooling sebagai pendidikan alternatif, yaitu karena sistem ini menyediakan pendidikan moral atau keagamaan, lingkungan sosial dan suasana belajar yang lebih baik, menyediakan waktu belajar yang lebih fleksibel. Juga memberikan kehangatan dan proteksi dalam pembelajaran terutama bagi anak yang sakit atau cacat, menghindari penyakit sosial yang dianggap orang tua dapat terjadi di sekolah seperti tawuran, kenakalan remaja (bullying), narkoba dan pelecehan. Selain itu sistem ini juga memberikan keterampilan khusus yang menuntut pembelajaran dalam waktu yang lama seperti pertanian, seni, olahraga, dan sejenisnya, memberikan pembelajaran langsung yang kontekstual, tematik, dan nonscholastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.
Homeschooling juga memberikan metode pembelajaran yang lebih bebas, dimana anak didik tidak harus bersekolah dan jauh dari orangtuanya, serta bebas menggunakan sarana pembelajaran sendiri. Yang terpenting dalam adalah penanaman sikap mental belajar sehingga anak didik bisa belajar dengan cara mereka sendiri serta belajar dari siapa saja dan apa saja. Anak didik bisa belajar membuat rumah kepada tukang bangunan, belajar mengolah sawah kepada petani, belajar memerah susu kepada peternak sapi, belajar berjualan kepada pedagang, tanpa harus terikat tempat dan waktu.
Jumlah peserta didik yang terbatas membuat tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing peserta didik. Sebagai contoh, jika anak didik bercita-cita jadi penyanyi atau artis, dan merasa tidak perlu mempelajari Kimia atau Fisika, di homeschooling anak didik dibebaskan tidak mengambil pelajaran tersebut, karena peserta homeschooling diarahkan mengambil bidang studi sesuai dengan bakat dan potensi mereka.

Kekurangan Homeschooling

Keunggulan dan kekurangan adalam dua hal yang tidak bisa dipisahkan, di mana sesuatu ada keunggulan, pasti ada juga kekurangannya, begitu juga dengan homeschooling, beberapa kekurangan harus siap dihadapi oleh anak didik yang memilih homeschooling sebagai alternatif pendidikan. Diantaranya kekurangan yang tidak bisa kita pungkiri adalah kurangnya interaksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat. Kemungkinan lainnya anak didik bisa terisolasi dari lingkungan sosial yang kurang menyenangkan sehingga akan kurang siap nantinya menghadapi berbagai kesalahan atau ketidakpastian.
Kurangnya interaksi juga membuat anak didik kehilangan kesempatan untuk bergabung dalam salah satu tim olah raga, dan organisasi siswa pada umumnya seperti OSIS, PMR, IRM, PASKIBRA, pramuka, tim basket, tim sepak bola dan sebagainya seperti halnya yang terdapat disekolah umum. Pastinya kamu jadi tidak bisa merasakan indah dan serunya masa-masa SMU

Kekurangan lain adalah tidak ada kompetisi atau bersaing. Sehingga ada kemungkinan anak didik tidak bisa membandingkan sampai dimana kemampuannya dibanding anak-anak lain seusianya. Selain itu anak didik belum tentu merasa cocok jika diajar oleh orang tua sendiri, apalagi jika memang mereka tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya.Faktor tingginya biaya homeschooling juga menjadi salah satu kekurangan, karena dipastikan biaya yang dikeluarkan untuk memberikan pendidikan homeschooling lebih besar dibanding jika kita mengikuti pendidikan formal disekolah umum.

So, bagi yang tertarik dengan sistem pendidikan homeschooling, dan memutuskan untuk melakukan homeschooling pastikan anda memperoleh informasi yang cukup serta kesiapan mental untuk menjalani metode homeschooling tersebut. Yang terpenting, apapun yang anda pilih, anda harus menjalaninya dengan sepenuh hati, karena hanya dengan itulah prestasi terbaik akan anda raih.





Homeschooling : Model Pengembangan Sistem Pendidikan
15/09/2009 - 09:24:55 | Read 4,833 Time(s)

"Homeschooling (Sekolah Rumah) saat ini mulai menjadi salah satu model pilihan orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dalam bidang pendidikan. Pilihan ini muncul karena adanya pandangan para orang tua tentang kesesuaian minat oleh anak-anaknya. Homeschooling ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri. "

Homeschooling (Sekolah rumah), menurut Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Ella Yulaelawati, adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga dan proses belajar mengajar pun berlangsung dalam suasana yang kondusif.
Tujuannya, agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal. Rumusan yang sama juga dipegang oleh lembaga-lembaga pendidik lain yang mulai menggiatkan sarana penyediaan program homeschooling.
Ada beberapa alasan mengapa para orang tua di Indonesia lebih memilih sekolah rumah. Kecendrungannya antara lain, bisa menekankan kepada pendidikan moral atau keagamaan, memperluas lingkungan sosial dan tentunya suasana belajar yang lebih baik, selain memberikan pembelajaran langsung yang konstekstual, tematik, nonskolastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.
Menurut Ela Yuliawati, pandangan ini memberikan pengertian luas kepada setiap orang untuk lebih mengekspresikan keinginan dan kemampuan dalam menimba ilmu, tidak hanya di lingkungan yang dinamakan sekolah. Bahkan kesempatan mendapatkan ilmu yang lebih juga memiliki peluang besar sejalan dengan perkembangan pendidikan.
Hal ini yang kemudian membuat homeschooling dipilih sebagai salah alternatif proses belajar mengajar dalam perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Hingga kemudian model homeschooling (Sekolah Rumah) dimasukan dalam revisi UU pendidikan no 20 tahun 2003.
PENERAPAN HOME SCHOOLING
Menurut Seto Mulyadi, Ketua Komnas Anak, kemunculan homeschooling sebagai salah satu alternatif memang perlu dibuktikan keberhasilannya sebagai sebuah kompetisi proses menimba melalui sistem non formal.
Secara etimologis, home schooling (HS) adalah sekolah yang diadakan di rumah. Meski disebut home schoooling, tidak berarti anak akan terus menerus belajar di rumah, tetapi anak-anak bisa belajar di mana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan seperti layaknya berada dirumah. Keunggulan secara individual inilah yang memberi makna bagi terintegrasinya mata pelajaran kepada peserta didik.
Seto mengatakan, perlunya dukungan penuh dari orang tua untuk belajar, menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, dan memelihara minat dan antusias belajar anak. Karena dibalik kemudahan, Sekolah rumah juga memerlukan kesabaran orangtua, kerja sama antaranggota keluarga, dan konsisten dalam penanaman kebiasaan.
Seto menampik sejumlah mitos yang dinilainya keliru tentang homeschooling selama ini. Misalnya, anak kurang bersosialisasi, orang tua tidak bisa menjadi guru, orang tua harus tahu segalanya, orang tua harus meluangkan waktu 8 jam sehari, waktu belajar tidak sebanyak waktu belajar sekolah formal, anak tidak terbiasa disiplin dan seenaknya sendiri, tidak bisa mendapatkan ijazah dan pindah jalur ke sekolah formal, tidak mampu berkompetisi, dan homeschooling mahal. "Itu keliru," ucapnya.
Ada beberapa klasifikasi format homeschooling, yaitu:
1. Homeschooling tunggal
Dilaksanakan oleh orangtua dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya karena hal tertentu atau karena lokasi yang berjauhan.
2. Homeschooling majemuk
Dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orangtua masing-masing. Alasannya: terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan oleh beberapa keluarga untuk melakukan kegiatan bersama. Contohnya kurikulum dari Konsorsium, kegiatan olahraga (misalnya keluarga atlit tennis), keahlian musik/seni, kegiatan sosial dan kegiatan agama
3. Komunitas homeschooling
Gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, musik/seni dan bahasa), sarana/prasarana dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara orang tua dan komunitasnya kurang lebih 50:50.
Alasan memilih komunitas homeschooling antara lain:
- Terstruktur dan lebih lengkap untuk pendidikan akademik, pembangunan akhlak mulia dan pencapaian hasil belajar
- Tersedia fasilitas pembelajaran yang lebih baik misalnya: bengkel kerja, laboratorium alam, perpustakaan, laboratorium IPA/Bahasa, auditorium, fasilitas olah raga dan kesenian
- Ruang gerak sosialisasi peserta didik lebih luas tetapi dapat dikendalikan
- Dukungan lebih besar karena masing-masing bertanggung jawab untuk saling mengajar sesuai keahlian masing-masing
- Sesuai untuk anak usia di atas 10 tahun
- Menggabungkan keluarga tinggal berjauhan melalui internet dan alat informasi lainnya untuk tolak banding (benchmarking) termasuk untuk standardisasi
TANTANGAN HOME SCHOOLING
Dalam perkembangannya, homeschooling juga menghadapi beberapa tantangan, yaitu:
1. Homeschooling tunggal
- Sulitnya memperoleh dukungan/tempat bertanya, berbagi dan berbanding keberhasilan
- Kurang tempat sosialisasi untuk mengekspresikan diri sebagai syarat pendewasaan
- Orang tua harus melakukan penilaian hasil pendidikan dan mengusahakan penyetaraannya
2. Homeschooling majemuk
- Perlu kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana, fasilitas dan kegiatan tertentu
- Perlu ahli dalam bidang tertentu walaupun kehadiran orang tua harus tetap ada
- Anak-anak dengan keahlian/kegiatan khusus harus menyesuaikan/menerima lingkungan lainnya dengan dan menerima perbedaan-perbedaan lainnya sebagai proses pembentukan jati diri
- Orang tua masing-masing penyelenggara homeschooling harus menyelenggarakan sendiri penyetaraannya
3. Komunitas homeschooling
- Perlunya kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana, fasilitas dan kegiatan tertentu yang dapat dilaksanakan bersama-sama
- Perlunya pengawasan yang professional sehingga diperlukan keahlian dalam bidang tertentu walaupun kehadiran orang tua harus tetap ada
- Anak-anak dengan keahlian atau kegiatan khusus harus juga bisa menyesuaikan dengan lingkungan lainnya dan menerima perbedaan-perbedaan lainnya sebagai proses pembentukan jati diri.
KEKUATAN HOME SCHOOLING
Sebagai sebuah pendidikan alternatif, homeschooling juga mempunyai beberapa kekuatan dan kelemahan. Kekuatan/kelebihan homeschooling adalah:
- Lebih memberikan kemandirian dan kreativitas individual bukan pembelajaran secara klasikal
- Memberikan peluang untuk mencapai kompetensi individual semaksimal mungkin sehingga tidak selalu harus terbatasi untuk membandingkan dengan kemampuan tertinggi, rata-rata atau bahkan terendah
- Terlindungi dari tawuran, kenakalan, NAPZA, pergaulan yang menyimpang, konsumerisme dan jajan makanan yang malnutrisi
- Lebih bergaul dengan orang dewasa sebagai panutan
- Lebih disiapkan untuk kehidupan nyata
- Lebih didorong untuk melakukan kegiatan keagamaan, rekreasi/olahraga keluarga
- Membantu anak lebih berkembang, memahami dirinya dan perannya dalam dunia nyata disertai kebebasan berpendapat, menolak atau menyepakati nilai-nlai tertentu tanpa harus merasa takut untuk mendapat celaan dari teman atau nilai kurang
- Membelajarkan anak-anak dengan berbagai situasi, kondisi dan lingkungan sosial
- Masih memberikan peluang berinteraksi dengan teman sebaya di luar jam belajarnya
Sedangkan kelemahan homeschooling adalah:
- Anak-anak yang belajar di homeschooling kurang berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat
- Sekolah merupakan tempat belajar yang khas yang dapat melatih anak untuk bersaing dan mencapai keberhasilan setinggi-tingginya
- Homeschooling dapat mengisolasi peserta didik dari kenyataan-kenyataan yang kurang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh pada perkembangan individu
- Apabila anak hanya belajar di homeschooling, kemungkinan ia akan terisolasi dari lingkungan sosial yang kurang menyenangkan sehingga ia akan kurang siap untuk menghadapi berbagai kesalahan atau ketidakpastian
PRASYARAT KEBERHASILAN HOME SCHOOLING
Agar homeschooling dapat dilaksanakan dengan baik dan anak dapat merasa nyaman dalam belajar, maka ada beberapa prasyarat keberhasilan dalam menyelenggarakan homeschooling, yaitu:
- Kemauan dan tekad yang bulat
- Disiplin belajar-pembelajaran yang dipegang teguh
- Ketersediaan waktu yang cukup
- Keluwesan dalam pendekatan pembelajaran
- Kemampuan orang tua mengelola kegiatan
- Ketersediaan sumber belajar
- Dipenuhinya standar yang ditentukan
- Ditegakkannya ketentuan hukum
- Diselenggarakannya program sosialisasi agar anak-anak tidak terasing dari lingkungan masyarakat dan teman sebaya
- Dijalinnya kerjasama dengan lembaga pendidikan formal dan nonformal setempat sesuai dengan prinsip keterbukaan dan multimakna
- Terjalin komunikasi yang baik antar penyelenggara homeschooling
- Tersedianya perangkat penilaian belajar yang inovatif (misalnya dalam bentuk portofolio dan kolokium)
ORANG TUA, GURU JUGA TEMAN
Lalu, apa yang yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menyelenggarakan sekolah rumah? Seto mengatakan, orang tua harus menjadikan anak sebagai teman belajar dan menempatkan diri sebagai fasilitator. ""Orang tua harus memahami bahwa anak bukan orang dewasa mini," tuturnya.
"Anak," kata Seto, "Perlu bermain. Itu yang perlu dipahami oleh orang tua. Karena itu pula, orang tua tidak boleh arogan dengan menempatkan diri sebagai guru, tapi belajar bersama. Kalau tidak siap dengan itu, menurut Seto, lebih baik jangan menyelenggarakan sekolah rumah."
"Orang tua, tetap perlu terus menambah pengetahuan. Tidak mesti menguasai semua jenis ilmu, yang penting, memiliki pemahaman tentang anak. Bila orang tua kurang mengerti pelajaran biologi atau matematika, misalnya, orang tua bisa mendatangkan guru untuk pelajaran tersebut dan belajar bersama anak. Dengan demikian, anak akan merasa tidak lebih rendah, tapi sebagai sahabat dalam belajar," ungkap Kak Seto menambahkan.
Bagaimana dengan kedua orang tua yang bekerja sehingga merasa tidak punya waktu untuk memberikan pembelajaran kepada anak dalam menyelenggarakan homeschooling? Seto mengatakan, "itu tidak boleh menjadi alasan."
"Sesibuk apa pun orang tua, tetap harus punya waktu untuk anak. Kalau tidak punya waktu, jangan punya anak," ucap psikolog yang juga menyelenggarakan homeschooling bagi anak sulungnya itu.
Pembelajaran sekolah rumah sebaiknya menyesuaikan dengan standar kompetensi yang telah ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ini agar sejalan dengan pertumbuhan dan kemampuan anak, di samping dapat diikutkan dalam evaluasi dan ujian yang diselenggarakan secara nasional.
Standar kompetensi menjadi panduan yang harus dimiliki seorang anak pada kelas tertentu. Anak kelas VI SD atau setara, misalnya, minimal sudah harus menguasai pelajaran matematika sampai batas tertentu pula. "Standar kompetensi ini," kata Seto, "Dapat diperoleh di Dinas Pendidikan yang ada di daerah masing-masing."
Evaluasi bagi anak yang mengikuti homeschooling dapat dilakukan dengan mengikutkan pada ujian Paket A yang setara dengan SD atau Paket B setara SMP. "Pada dasarnya," kata Seto, "Evaluasi tersebut dapat pula dilakukan dengan menginduk ke sekolah formal yang ada." Menurutnya, seharusnya ini bisa dilakukan karena sekolah rumah bukan sekolah liar. Kiranya para orang tua harus berkaca diri dulu sebelum menyelenggarakan sekolah rumah bagi sang buah hati.
……………………………………


Home schooling syllabus Home schooling silabus
Thursday 18th December 2008 - 5:06:22 PM Kamis 18 Desember 2008 - 5:06:22
Since I home school we are always hearing about how our kids will not be socially ready for college, and how they will not be prepared for the structure of a college classroom, and on and on. Karena saya pulang sekolah kita selalu mendengar tentang bagaimana anak-anak kita tidak akan siap untuk kuliah sosial, dan bagaimana mereka tidak akan siap untuk struktur kelas sebuah perguruan tinggi, dan seterusnya, dan seterusnya.
I decided to write a syllabus, for my kids, to see how we compared to a college class. Aku memutuskan untuk menulis silabus, untuk anak-anakku, untuk melihat bagaimana kami dibandingkan dengan kelas kuliah.
Unprepared? Siap?
We'll let you be the judge… Kami akan membiarkan anda menjadi hakim ...
Homemaker Chronicles presents, a Home schooling syllabus! Ibu rumah tangga Tawarikh hadiah, sebuah Home schooling silabus!
Homemaker's School Ibu rumah tangga's School
Course: Homeschooling 5 children 101 Kursus: Homeschooling 5 anak 101
Location: Mostly at the dining room table, and occasionally in the living room on the couch. Also at the breakfast table and at times in your own bedroom or outside on the deck. Then again, it could be in the car on the way to visit family 8 hrs. Lokasi: Biasanya di meja ruang makan, dan kadang-kadang di ruang duduk di sofa. Juga di meja makan dan kadang-kadang di kamar tidur Anda sendiri atau di luar di teras. Kemudian lagi, itu bisa di dalam mobil dalam perjalanan ke mengunjungi keluarga 8 jam. away, in the doctor's office waiting room, or at a friend's house (but only when I NEED to have a cup of coffee and maybe a little chat- we can always do school in the afternoon if we miss the morning). menjauh, di kantor dokter ruang tunggu, atau di rumah teman (tapi hanya ketika saya PERLU untuk minum kopi dan mungkin sedikit obrolan-kita bisa selalu melakukan sekolah di sore hari jika kita kehilangan pagi).
My Office Hours: M-Sun. My Office Hours: M-Sun. 6:00am-9:00pm also available after hours and throughout the night for drinks of water, if you have a bad dream and need me to pray for you, tummy aches leading to vomit leading to midnight clean up and bed changing, or anything else you could possibly think of. 6:00-9: 00pm juga tersedia setelah jam dan sepanjang malam untuk minum-minum air, jika Anda memiliki mimpi buruk dan perlu saya berdoa untuk Anda, yang menyebabkan sakit perut muntah mengarah pada tengah malam dan membersihkan tempat tidur berubah, atau apa lain mungkin Anda pikirkan.
Dates of course: Beginning the day you are born until the rest of your life Tanggal tentu saja: Mulai hari Anda lahir sampai seumur hidup Anda
Credit hours: I think I'll get a few jewels in my crown and you will too- if you obey. (*Ephesians 6:1) Who knows what school credit comes with this course. Kredit jam: Saya rasa saya akan mendapatkan beberapa perhiasan di mahkota saya dan Anda akan terlalu-jika Anda patuhi. (* Efesus 6:1) Siapa yang tahu apa kredit sekolah dilengkapi dengan kursus ini.
Prerequisite(s): Birth Prasyarat (s): Kelahiran
Welcome and Introduction Selamat datang dan Pendahuluan
“Welcome to Homeschooling 5 Children 101. "Selamat datang di Homeschooling 5 Anak-anak 101. I'm your instructor, MOM. Aku instruktur Anda, IBU. We'll be together for the next 345,279 weeks. Kita akan bersama-sama 345.279 selama minggu. In this course, we'll come together to help you learn how to share, take out the trash, clean the bathroom, sweep and mop, vacuum, do the dishes, keep your room picked up, love your siblings, mission work/volunteering, be an upstanding human being in society, cook, sew, prepare the house for guests, and work with your hands, with an emphasis on Math, English, Science, History, Writing, Spelling, Reading and following Jesus Christ. And anything else you need to survive in life.” Dalam kursus ini, kami akan datang bersama-sama untuk membantu Anda mempelajari cara untuk berbagi, membuang sampah, membersihkan kamar mandi, menyapu dan mengepel, vakum, mencuci piring, menjaga kamar Anda dijemput, kasihilah saudara kandung, misi bekerja / relawan , menjadi manusia terhormat dalam masyarakat, memasak, menjahit, menyiapkan rumah untuk para tamu, dan bekerja dengan tangan Anda, dengan penekanan pada Matematika, Bahasa Inggris, Sains, Sejarah, Writing, Spelling, Reading dan mengikuti Yesus Kristus. Dan hal lain Anda perlu untuk bertahan dalam hidup. "
Course Goals: Course Gol:
• To school you in all subjects until you graduate high school and are accepted into college or find a job. Sekolah Anda dalam semua mata pelajaran sampai Anda lulus SMA dan diterima di perguruan tinggi atau mencari pekerjaan.
• Make sure you have friends that will encourage you toward honesty and purity. Pastikan Anda memiliki teman yang akan mendorong Anda terhadap kejujuran dan kesucian.
• Teach you to obey your superiors no matter how you feel . Mengajarkan Anda untuk mematuhi atasan Anda tak peduli bagaimana perasaan Anda.
• Let you know and understand that there ARE consequences for your actions-no matter how old you are. Biarkan Anda mengetahui dan memahami bahwa ada konsekuensi YANG tindakan Anda-tidak peduli berapa umurmu.
• Guide you in choosing a mate, marrying that person, and eventually raising children of your own. Membimbing Anda dalam memilih pasangan, menikah dengan orang itu, dan akhirnya membesarkan anak-anak Anda sendiri.
Methods of Instruction (in order of usage) Metode Instruksi (dalam urutan penggunaan)
• Train/Teach Kereta / Teach
• Discipline Disiplin
• Spank Memukul
• Correct Benar
• Love Cinta
• Admonish Menegur
• Guide Panduan
• Drag Drag
• Force Angkatan
• Scream Scream
• Yell Yell
• Throw things Melempar barang
Course Component Specifics Spesifikasi Komponen Course
Behavior Expectations: As your God-given mother and one of the two people on this earth that can take you out, I expect total submission until you are 18 years old, at which time you will still obey me with every fiber of your being. I expect first-time obedience without whining. Perilaku Harapan: Ketika anda diberikan Allah ibu dan salah satu dari dua orang di dunia ini yang dapat membawa Anda keluar, aku berharap total pengajuan sampai Anda berusia 18 tahun, dan pada saat Anda akan tetap taatlah kepadaku dengan setiap serat keberadaan Anda. Saya pertama kali mengharapkan kepatuhan tanpa merengek.
Repeated misbehavior: If you are ever dishonest or disobedient, after having been corrected once, I will tell your father. Mengulangi kenakalan: Jika Anda pernah tidak jujur atau tidak taat, setelah diperbaiki sekali, aku akan memberitahu ayahmu.
Enough said. Enough said.
Participation: You will participate in all daily activities unless you are running over a 100 degree temperature, throwing up, I give you a FREE DAY because it's sunny, or just because I'm sick of chasing around a 2 and 4 year old while trying to answer all of your school questions. Partisipasi: Anda akan berpartisipasi dalam semua kegiatan sehari-hari, kecuali jika Anda menjalankan lebih dari 100 derajat temperatur, muntah, aku memberikan GRATIS HARI karena cuaca akan cerah, atau hanya karena aku muak mengejar sekitar 2 dan 4 tahun ketika mencoba untuk menjawab semua pertanyaan sekolah Anda.
Plagiarism and cheating: These have no place in a community of scholars. Have the confidence in yourself to give your original best. This is all that is required of you. Plagiarisme dan kecurangan: Ini tidak mempunyai tempat dalam komunitas cendekiawan. Apakah kepercayaan pada diri sendiri untuk memberikan yang terbaik asli Anda. Ini semua yang diperlukan dari Anda.
Absences: If you are actually absent , not just pretending you are still asleep, then your father has probably already notified the police and I am being detained for questioning. Absen: Jika Anda benar-benar ada, bukan hanya berpura-pura anda masih tertidur, lalu ayahmu mungkin sudah melapor ke polisi dan saya sedang ditahan untuk ditanyai.
During this course there is no such thing as absences for family or personal emergencies, absences for medical reasons, or absences for travel. I am your family, I make your doctor appointments, and I plan your vacations. And don't try to lie to me about some extracurricular activity that you were “required” to attend for extra credit. Selama kursus ini tidak ada yang namanya absen untuk keluarga atau pribadi darurat, absen karena alasan medis, atau absen untuk perjalanan. Aku adalah keluarga, saya membuat janji dokter Anda, dan saya berencana liburan Anda. Dan jangan mencoba untuk berbohong kepada saya tentang beberapa kegiatan ekstrakurikuler bahwa Anda adalah "dibutuhkan" untuk hadir untuk kredit tambahan. I know it all (wink-wink). Aku tahu itu semua (wink-wink). (playing the “eyes in the back of the head” card here ). (main "mata di belakang kepala" kartu di sini).
Make-Up Work: This will only be required when we fall an entire semester behind (which is likely if I'm pregnant). Make-Up Work: Ini hanya akan diperlukan bila kita jatuh seluruh semester di belakang (yang kemungkinan kalau aku hamil).
Grading : I don't give grades…just smiley-face stickers!! Grading: Aku tidak memberikan nilai ... hanya wajah smiley-stiker!!
Course Assistance: Since I am here to watch you everyday, I have the privilege of helping you through anything you do not understand. Including, but not limited to, attitude, effort, improvement, and participation. If it's a math problem we'll call dad! Course Bantuan: Karena saya di sini untuk menonton Anda setiap hari, saya memiliki hak istimewa untuk membantu Anda melalui apapun yang tidak anda mengerti. Termasuk, tetapi tidak terbatas pada, sikap, usaha, perbaikan, dan partisipasi. Jika itu adalah soal matematika kami akan panggilan ayah!